Suatu pagi saya siap menghadirkan ilmu di sebuah kelas.
Sedang seru-serunya menjelaskan reaksi fotosintesis dan proses fisiologis tanaman, ada yang menghampiri saya dan berkata, "Bu, saya mau ijin pemasaran brokoli"
"Hmmm. Baiklah, silahkan ijin dispensasi ke guru piket" sahut saya.
Pun berlanjut menerangkan tentang xylem dan floem yang bertugas mengangkut sari makanan.
Tetiba...
"Bu, saya hendak pemasaran kangkung" dia berkata sambil menyodorkan surat dispensasi yang telah ditandatangani guru piket.
"Okeee." tanggap saya.
Sedang gesrek membahas stomata, si mulut daun yang imut itu, ada lagi yang menghapiri saya.
"Bu~"
Saya menoleh.
Kali ini saya dihadapkan pada yang sedang nyengir dan hendak menyodorkan tangannya.
"Mau kemana kamu?" Tanya saya.
"Saya akan pemasaran melon, bu" jawabnya masih dengan cengiran.
"Naniiiiii!!!"
Ah, itu hanya teriakan saya dalam hati.
Saya pun melihat isi kelas.
Hanya tinggal separuh biji nangka.
Eh, bukan. Separuh siswa.
Bagaimana bisa seluruh kelas mendapat KKM kalau banyak yang dispensasi pemasaran?
Sempat terbesit dengan ide satu pintu.
Bagaimana bila semua hasil pertanian tersebut dipasarkan oleh satu sistem saja?
Siswa tinggal panen, lalu menyalurkan hasil pertaniannya ke bagian pemasaran.
Syaratnya, siswa harus percaya dengan sistem yang telah dilakukan oleh bagian pemasaran tersebut.
Pun dengan koordinatornya.
Dari pihak pemasaran pun harus jujur mengembalikan keuntungan ke masing-masing siswa.
Jadi tidak ada yang namanya "menggendutkan perut sendiri"
Juga tidak ada yang saling tuduh antar sistem.

Komentar
Posting Komentar