Membentuk Karakter Siswa dengan Penelitian Science



Kurikulum pendidikan saat ini menuntut siswa untuk membangun karakter dirinya. Ini diakibatkan menurunnya kualitas masyarakat dewasa yang disalahkan karena tidak termuatnya pendidikan karakter dan akhlak di kurikulum sebelumnya. Sehingga kurikulum saat ini memuat pendidikan yang berdasarkan character bulding.

Orang tua dan guru menyadari adanya kemerosotan nilai akhlak yang dialami siswa. Cerminan budaya global dan tidak terbatasnya teknologi membuat orang tua dan guru harus lebih menyelami permasalahan dalam diri siswa. Saat ini, anak-anak kita dituntut untuk tetap memiliki pemikiran maju dan mental yang kuat tetapi tidak lupa tetap menjunjung norma agama, moral dan etika.

Awal tahun 1980an, kita membangun siswa dengan meningkatkan nilai IQ (Intelligence Quotient). Saat memasuki tahun 1990an, EQ (Emotional Quotient) mulai digembor-gemborkan menjadi faktor penting agar mereka siap terjun ke masyarakat. Dan saat memasuki era milenial, masyarakat mulai menyadari kemerosotan akhlak siswa maka diaktifkan sistem SQ (Spiritual Quotient) dan TQ (Trancendental Quotient) ke dalam pembelajaran siswa.

Menurut Ayu (2019), kecerdasan intelektual yaitu IQ (Intelligence Quotient) didasarkan pada kecerdasan berpikir yang erat kaitannya dengan kemampuan mengingat, memahami, menganalisa, mengevaluasi dan memecahkan masalah. Kecerdasan emosional yaitu EQ (Emotional Quotient) adalah kemampuan mengontrol perasaan diri sendiri, mengenali perasaan orang lain, adaptasi, kerjasama, disiplin, tanggung jawab dan komitmen. Kecerdasan spiritual yaitu SQ (Spiritual Quotient) adalah kemampuan untuk bertindak jujur, adil, mengasihi, kasih saying, toleransi, empati, rendah hati, sikap ramah, dan sebagainya. Dan terakhir Kecerdasan transendental yaitu TQ (Trancendental Quotient) merupakan pengembangan dari kecerdasan spiritual dimana seseorang memaknai hidup dan mempunyai konsep visioner ke depan tentang kematian. Keempat kecerdasan ini diharapkan bisa dimiliki anak-anak kita agar mereka bisa menjalani kemajuan zaman dengan diiringi rasa tanggung jawab kepada Sang Khaliq.

Science digunakan para guru untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam aspek kognitif, aspek psikomotorik dan aspek kognitif. Oleh karena itu, science dirancang sedemikian rupa agar siswa dapat mengembangkan kemampuannya untuk memecahkan masalah yang nyata agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi pada kenyataannya, siswa mencontoh penelitian science sebelumnya yang rupanya menerapkan penyimpangan akhlak. Contohnya antara lain pemalsuan data, ketidakjujuran penulisan laporan penelitian dan plagiasi. Hal ini tentunya telah menyimpang dari pendidikan nasional yang telah gagal membentuk siswa berkarakter.

Amanat Undang-undang Dasar Tahun 1945 dan UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pernyataan ini telah dijelaskan oleh Mundilarto (2013). Hal yang disebutkan dari dasar tersebut rupanya belum berhasil di sistem pendidikan kita. Perilaku ketidakjujuran siswa akan membentuk kasus-kasus yang semakin besar. Kecenderungan emosional, tindakan anarkis, berbagai macam tindak kejahatan oleh para usia dini, tawuran, permasalahan kejiwaan dan bahkan korupsi, kolusi serta nepotisme. Sungguh memprihatinkan!

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada akhirnya membuat kebijakan dengan memasukkan pendidikan karakter dan akhlak di dalam kurikulum jenjang pra sekolah, dasar, menengah hingga ke pendidikan tinggi. Pendidikan karakter adalah suatu keharusan dengan memasukkan empat kecerdasan yang tidak hanya menjadikan siswa cerdas berpikir melainkan mempunyai budi pekerti luhur, sopan santun, rendah hati, membagi ilmunya ke masyarakat dan mempertanggungjawabkan ilmunya kelak di akhirat.

Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara mencetuskan kata-kata : rasa, karsa, cipta dan karya. Empat kata ini adalah kekuatan dari Sang Khaliq yang diberikan kepada manusia dengan fungsi yang berbeda. Jika keempat kekuatan ini digabung maka akan menjadi kekuatan manusia yang bermanfaat bagi sesama dan alam sekitar. Konsep seorang Bapak Pendidikan ini telah melampaui batas pada masa itu. Konsep inilah yang tepat diterapkan bagi siswa kita. Kurikulum saat ini tak lain dan tak bukan telah menyerap konsep ini. Tinggal bagaimana seorang guru bisa menularkan ke siswanya.

Aspek Rasa adalah hal yang menstimulasi sensoris berdasarkan tanggapan dan pengalaman untuk melatih fisik dan mental. Dalam ilmu science, siswa melakukan penelitian berdasarkan konsep rasa. Rasa diri sendiri dari berbagai permasalahan yang dihadapinya. Salah satunya, bagaimana bisa membuat tanaman menjadi subur dengan bahan limbah? Bagaimana memanfaatkan jambu mete yang beserakan di halaman sekolah? Bagaimana mengembangkan bakteri bermanfaat di tanah bawah pohon bambu?

Aspek Karsa mencakup kekuatan jiwa yang mendorong siswa mempunyai kehendak atau niat. Siswa mempunyai motivasi untuk mengembangkan penelitiannya. Motivasi bagaimana supaya ilmu yang dihasilkannya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.

Aspek Cipta merupakan kemampuan menghasilkan sesuatu dengan pemikiran kreatif. Dengan menciptakan rancangan penelitian yang bersumber dari dasar teori sebelumnya, siswa diharapkan dapat menghasilkan ilmu baru.

Terakhir adalah Aspek Karya yang merupakan pekerjaan hasil ciptaan. Hasil karya dari tiga aspek sebelumnya akan menghasilkan karya yang telah dimodifikasi dan diuji dengan rancangan penelitiannya. Maka siswa pun siap menyuluhkan hasil karyanya ke depan publik dengan penuh rasa kejujuran dan tanggungjawab.

Guru adalah komponen vital dalam mewujudkan empat aspek ini di dalam proses pembelajaran. Dengan adanya penelitian science yang dilakukan akan mewujudkan proses kematangan, pola pikir dan pembentukan karakter-karakter baik demi mewujudkan manusia beradab seutuhnya. 
Pembelajaran pola praktik penelitian merupakan contoh peluang untuk mengembangkan karakter siswa yang dapat melatih kecakapan empat kecerdasan intelektual dan melatih sikap ilmiah yaitu ketelitian, kejujuran, tanggung jawab, kerjasama dan etika. Hal ini bila dilatih akan membentuk karakter siswa dan akan melekat pada diri siswa tersebut.


Sumber Pustaka :
Ayu, Rindang. 2019. Mengenal Empat Kecerdasan Manusia. Blog Kompasiana.
Mundilarto. 2013. Membangun Karakter Melalui Pembelajaran Sains. Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun III, Nomor 2.



Tulisan ini sudah diterbitkan di buku antologi kedua penulis, yaitu berjudul "Pendidikan Karakter Era Millenial".




Komentar