Bahagia Mendapat Buku "Bahagianya PNS Tanpa Riba” (Sebuah Mini Review & Sepenggal Kisah)



Awal saya diperkenalkan pada buku ini menjelang akhir tahun 2019. Saat itu saya masuk di Group Satu Guru Satu Buku Bondowoso. Para peserta pelatihan dikumpulkan dalam wadah satu group WhatsApp. Bahasan di group menjelang acara adalah promosi buku yang ditulis alumni pelatihan. Satu judul buku yang menarik perhatian ialah Bahagianya PNS Tanpa Riba oleh Ibu Linda Juliharti.


Gambar bukunya pun saya forward ke WhatsApp suami. Beliau menyarankan untuk segera membeli buku tersebut. Saya tanyakan ke panitia tentang prosedur membeli buku. Saya disarankan menghubungi penulisnya langsung via Facebook.
Setelah berseluncur di kolom pencarian Facebook, akhirnya bersua juga dengan akun Ibu Linda. Kami berkomunikasi beberapa saat, saling sharing dan mendaratlah buku ini di tangan.
Buku ini tipis, tidak sampai seratus halaman. Tetapi inti kisah di dalam buku menyentuh hati para pembacanya. Lembar demi lembar kami baca. Tak terasa tetes air mata mengalir saat Ibu Linda bercerita tentang dirinya, suami dan anaknya yang kehujanan sambil mengendarai roda dua. Keluarga kecil itu berdoa di bawah hujan agar bisa memperoleh kendaraan roda empat supaya si kecil tidak kehujanan lagi. Dan Allah pun mengabulkan doa mereka dengan caraNya.

Kejadian serupa juga baru kami alami. Saat itu kami sedang menempuh perjalanan ke rumah mertua. Perjalanan selayaknya ditempuh 1,5 jam saja. Tetapi hujan mengizinkan kami berteduh berulang kali. Kami berteduh demi menjaga kesehatan si kecil Yahya yang masih berusia 2 tahun. Suatu waktu pemberhentian mencapai ketujuh kalinya, dan durasi waktu sudah 3 jam perjalanan. Di dekat tanah lapang, kami berteduh di bawah pondok kecil. Suami mendiktekan : Allahumma shoyiban nafiiaan kepada Yahya. Dan ditambah doa supaya perjalanan kami lancar. Lalu Yahya menambahkan doa dari mulut mungilnya. Semoga ayah bisa punya mobil agar Yahya tidak kehujanan lagi. Saya dan suami pun berpandangan seraya mengucapkan Aamin. Semoga doamu dikabulkan Allah ya, nak.

Awal menikah, suami sudah menekankan bila tidak ingin terikat riba. Saya menyetujuinya. Ilmu agama saya tidak tinggi. Waktu itu saya belum tahu dosa riba seperti apa. Dan saat mengetahuinya, Astaghfirullah. Saya merinding. Itulah saat suami diterima menjadi PNS pun, kami sepakat untuk menjaga SK PNS suami secara aman di rumah. Sementara orang-orang lainnya banyak mencibir kebodohan kami ini.
Kenapa saya menyetujui keputusan suami untuk merumahkan SK PNSnya? Karena saya tahu jahatnya riba. Sebelum saya tahu dosa riba seperti apa, saya adalah saksi hidup tentang kejahatan riba. Sayalah yang tahu bagaimana seorang anak menjerit mencari bapaknya yang kabur dari rumah karena terlilit hutang riba. Sayalah yang tahu bagaimana seorang wanita yang pingsan berkali-kali saat suaminya dituntut pengacara karena riba yang menumpuk puluhan tahun tak terbayarkan di satu bank. Saya juga tahu bagaimana seseorang yang hampir memotong nadinya karena mengalami depresi terlibat hutang ke renternir.

Saya mempunyai cita-cita untuk membentuk keluarga yang tenang, tanpa beban hutang yang harus dibayarkan setiap minggu atau per bulannya. Hidup sederhana bagi kami. Berpakaian sederhana. Makan seadanya dan tetap bergizi, berupa ikan laut, sayuran, telur serta karbohidrat lengkap terutama untuk si buah hati. Mengendarai kendaraan pribadi, walaupun dari tangan kedua. Mempunyai gadget seperlunya, walau kadang tidak terisi pulsa dan kuota. Dan mengontrak kamar kost sederhana yang berukuran 4 x 4 meter sambil menyicil tanah serta bahan material bila ada rizqi barokah untuk membangun rumah pribadi.

Inilah yang kami lakukan di perantauan. Ikhtiar beribadah sunnah, mengaji dan tidak meninggalkan yang fardhu. Hidup sederhana di jalan Allah. Dan seperti kata Ustadz Yusuf Mansur, Sholawatin aja! BIla keinginanmu masih tinggi terhadap barang-barang kebutuhan di dunia, maka perbanyaklah sholawat untuk benda itu. Jadi pabila menginginkan gadget terbaru, print saja gambar gadgetnya lalu sholawatin terus. Siapa tahu dalam beberapa waktu Allah akan menunjukkan jalanNya agar keinginan terkabul. Insya Allah.

Kisah di buku Bahagianya PNS Tanpa RIba sekaligus sebagai pedoman dan juga sekelumit pengalaman yang sama dengan sang penulis. Ibu Linda adalah penulis yang menceritakan kesederhanaan. Dan doa untuk pembacanya agar bisa hidup tenang di jalan Allah dan percaya segala keputusan Allah. Beliau mengangkat semangat kami lewat buku ini. Beliau mengajarkan doa agar impian terkabul. Bila keinginan kalian belum terkabul, maka perbaiki ibadahmu. Teruslah berdoa kepada Allah.

Ohya, buku ini tidak hanya untuk PNS, ya. Semua kalangan dipersilahkan membaca. Ada kejadian lucu nan menggelitik waktu saya posting gambar buku ini di Instagram. Seorang teman comment, Emangnya Mirza sudah PNS? Kepingin marah & sebel, tapi gak boleh. Ya, senyumin aja. Jadi, membaca buku ini bisa untuk semua kalangan yang tidak ingin terjerat riba. Bisa siswa, wiraswasta, ibu rumah tangga, direktur, bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden. Jangan jadikan profesimu sebagai batasan untuk membaca sebuah buku!

Terakhir, saya berpesan : Jangan khawatir. Ada Allah, kok. Senyumin aja
Selamat bahagia dengan cara sederhana, teman-temanku.

Komentar